Dan hati terus merindu

Bisa kutebak kelanjutannya begitu sang malam merajai langit untuk menggantikan siang yang terang benderang dan penuh energi. Malam selalu identik dengan kelam dan konon katanya malam adalah sembilu bagi kesunyian serta waktu yang sangat tepat bagi kegalauan untuk merajai hati tanpa batas.

Dan seperti malam-malam gelap sebelumnya, hati selalu menyepi, menggema keras saat berdetak, terlempar dalam keterasingan dan keheningan tanpa jeda. Terkucil dalam masa mendamba yang begitu panjang, menyusut-memuai, dan tidak berujung. Lalu kepekatan terus mengepung, menerjang, membungkus tanpa ampun hingga hati terselubung kabut hitam, tanpa cahaya, jauh dari bintang, jauh dari bulan, dan jauh dari sang pengisi sela-sela jemari pada tangan.

Hingga akhirnya, hati terus mencari, berusaha keluar dari kepekatan sambil mengeluarkan puluhan aksara penguat diri. Semua diam tak bergerak, napas terasa sesak hingga akhirnya barikade pertahanan hati yang sudah disiapkan luluh lantak sekali terjang.

Hanya air mata yang mampu bicara. Ternyata hati ini terus merindu.

Tangerang, dinihari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s