Program Studi Indonesia: Antara Alasan dan Harapan

Coba jawab pertanyaan ini: Setelah lulus SMA mau ngapain, sih?

Jawabannya pasti sangat bervariasi sekali, ya. Ada yang bilang mau lanjut kerja, ada yang bilang mau nikah wirausaha, dan banyak juga yang berniat untuk melanjutkan studinya ke bangku universitas.

Terus kalo kamu jawabannya yang mana?

Saya sendiri, Alhamdulillah, akan malanjutkan ke universitas. Sebab Ayah saya, punya cita-cita untuk menyekolahkan semua anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi lagi. Tidak peduli perempuan atau laki-laki, semuanya punya hak sama jika menyangkut masalah pendidikan.

Tapi, ada satu syaratnya.

Saya harus kuliah di universitas negeri.

Iya, negeri. Universitas yang untuk bisa menjadi mahasiswanya saja memiliki syarat yang luarbiasa sulit: salah satunya adalah harus lulus tes ujian masuk yang luarbiasa sulit juga.

Parahnya lagi, kalau bisa kuliahnya di UI. Begitu yang dibilang oleh orangtua dan eyang saya. Makin susah lagi, kan?

Mungkin sebagian dari kamu ada yang berpikir begini saat membaca: yaelah, kenapa harus negeri, sih? Kampus lain yang swasta juga bagus, kok! Dan kenapa juga harus UI? Sadar sama kemampuan, lah. Dipikir masuk UI gampang?

Iya, tahu. Masuk UI itu nggak segampang masuk kamar mandi (eh, bahkan masuk kamar mandi aja kadang harus ngantri, ya).

Terus kenapa harus negeri? Kenapa harus UI? Kenapa nggak swasta aja?

Oke, saya jawab satu-satu dengan tingkat kesotoyan saya yang lumayan tinggi :p

  1. Kenapa harus negeri? Soalnya biaya kuliah di negeri itu murah. Titik. Itu aja alasannya. Saya kuliah masih dibayarin sama orangtua, jadi sebisa mungkin saya nggak mau ngeberatin mereka. Dan ayah saya juga bilang kalau beliau tidak sanggup untuk menyekolahkan saya di universitas swasta (memang sih banyak universitas swasta yang murah juga, tapi ayah saya punya komitmen tinggi untuk memberi pendidikan yang terbaik untuk anaknya–so, he choose the best university even if it was expensieve). Percaya atau tidak, ayah saya yang visioner itu sudah menelepon langsung ke universitas swasta terbaik di Indonesia (hayoo apa!) untuk menanyakan biaya kuliah hingga lulus untuk jurusan Arsitektur. Total biayanya? Udahlah nggak usah saya sebutin. Nanti kamu kaget :p
  2. Kenapa harus Universitas Indonesia? Oke, ini sebenernya cetek banget sih alasannya. Jadi gini: sepupu-sepupu saya hampir sebagian besar berkuliah di UI. Jadilah eyang saya tuh yakin kalau darah ‘the yellow jacket’ sudah mengalir di keluarga kami. Setiap saya main ke rumah eyang saya, beliau selalu berkata begini: “belajar yang bener, yang rajin, supaya bisa kuliah di UI”. UI, UI, UI, dan UI. Selalu universitas itu yang disebut-sebut di keluarga kami. Bahkan waktu saya SMP, saya sudah mengijakan kaki di kampus megah tersebut untuk mengantar sepupu saya. Setelahnya, saya diajak berkeliling dan lagi-lagi ‘diracunin’ untuk kuliah di sana. Oh, jangan lupa juga dengan pernak-pernik ala anak UI seperti stiker atau totebag: saya punya semua. Jadi, sebelum cerita ini jadi makin lebar kaya daun kelor, mari kita sudahi di sini dulu. Lanjut!
  3. Kenapa nggak swasta aja? Udah dijawab di poin satu, ya! Mahal, Gan!

Oke, jadi singkat kata, untuk merealisasikan hal tersebut, setelah lepas UN, saya mulai sibuk gerilya untuk mendaftar universitas negeri. Saya ikut SNMPTN Tertulis dan juga daftar SIMAK UI. Gimana susahnya usaha untuk masuk negeri? Udahlah, nggak usah dibahas. Kalian juga pasti ngalamin.

Terus hasilnya?

Alhamdulillah. Lulus.

Saya jadi (calon) mahasiswa UI. Bahagia bukan main begitu melihat hasil tes dan tertera tulisan “SELAMAT” di sana. Saya langsung teriak, nangis kejer, dan langsung bikin kedua orangtua lemas saat itu juga.

Iyalah, gimana nggak bahagia coba? Bisa melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia merupakan impian bagi setiap lulusan SMA. Kampus terbaik! Kampus yang kabarnya mencetak generasi gemilang penerus bangsa, lulusannya punya masa depan cerah (kalo nggak drop out), anaknya pintar-pintar (karena kabarnya anak UI itu rajin), dan biaya kuliah cukup murah untuk ukuran world class university. Kurang apa?

Kurang bersyukur. Iya, saya-nya masih kurang bersyukur meski sudah diterima di UI.

Jadi gini, saat SNMPTN Tertulis kemarin, saya memilih dua jurusan yang memang sangat saya minati, yaitu Arsitektur Interior UI dan Sastra Indonesia UI. Saya ambil jalur IPC, soalnya sepupu saya bilang, chance untuk keterimanya lebih besar (nggak tahu sih bener apa nggak, hehe). Saya sih ikut aja, soalnya saya suka dua-duanya.

Padahal, saya lebih condong ke Arsitektur Interior. Saya bahkan sudah merasa percaya diri karena bisa mengerjakan semua soal dengan mudah.

Dan begitu tahu saya tidak lolos di pilihan pertama…

…agak kecewa, sih. Gimana, ya. Bangga, bahagia, senang, tapi kecewa juga karena tidak bisa masuk ke jurusan yang saya inginkan.

But, don’t worry be happy!

Meskipun tidak lolos di pilihan pertama, rasanya kekecawaan saya cukup terbayar karena saya berhasil diterima di Program studi Indonesia UI.

Mengapa saya memilih Sastra Indonesia sebagai pilihan kedua setelah Arsitektur Interior? Cari aman? Cari yang passing grade-nya kecil biar bisa masuk PTN?

Jawabannya: tidak.

Lalu, apa alasannya?

Saya suka membaca. Sesederhana itu alasannya. Saya ingat, saya pernah membaca novel Pram yang judulnya Bumi Manusia. Buku itu sangat bagus dan konon katanya menjadi novel wajibnya anak sastra. Jadilah saya memilih Sastra Indonesia, dengan cita-cita tinggi seperti ingin mengajar bahasa Indonesia di luar negeri dan juga melanjutkan studi ke Belanda.

Ngawur? Nggak juga, sih. Soalnya saya udah gugling lulusan sastra Indonesia UI itu kebanyakan jadi apa :p

Omong-omong, saya juga sudah punya rencana kuliah, lho:

Beberapa hal yang saya targetkan ketika diterima di Sastra Indonesia UI adalah saya akan belajar sungguh-sungguh dan meraih IP minimal 3 setiap semester. Hal ini wajib saya lakukan untuk meraih beasiswa yang selalu menargetkan IPK tinggi untuk mahasiswanya. Rasanya pasti menyenangkan sekali, bisa membiayai kuliah sendiri dan tidak menyusahkan uang orangtua. Inilah target pertama yang harus terwujud dengan kerja keras dan doa tentu saja.

Untuk selanjutnya, saya berharap saya bisa menyelesaikan studi saya secepat mungkin. Setelah itu, saya akan mencari donatur atau bekerja dulu untuk mengumpulkan dana supaya bisa membiayai pendidikan saya di Universitas Leiden, Belanda. Kenapa harus di sana? Karena Universitas Leiden adalah sebuah universitas yang menyimpan koleksi naskah-naskah klasik Indonesia dan perlu diakui juga bahwa koleksinya merupakan yang terbanyak di dunia, bahkan mengalahkan koleksi yang ada di Indonesia. Universitas ini, saya rasa cocok untuk seorang lulusan S1 Sastra Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya.

Selama mengenyam pendidikan di Sastra Indonesia, saya tidak ingin hanya menjadi mahasiswa yang biasa saja. Saya ingin aktif. Saya juga ingin belajar Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Bahasa Jurnalistik, Bahasa Belanda, juga Sosiologi sebagai bahan mata kuliah pilihan di semester atas nanti. Mengapa harus bahasa Belanda? Supaya bisa menunjang cita-cita saya untuk kuliah di Belanda 🙂 Mengapa harus Jurnalistik, Ilmu Politik dan Sosiologi? Karena saya ingin terjun dibidang jurnalistik! Bukannya tanpa alasan, tapi selepas kuliah saya memang ingin melanjutkan dan turun di dunia jurnalistik. Saya ingin terjun langsung dan suara saya di dengar.

Untuk melancarkan rencana yang saya jabarkan di atas, kini hidup saya jauh lebih tertata karena saya merasa memiliki target. Setiap tugas yang datang selalu saya usahakan untuk dikerjakan sebaik mungkin karena pasti ada hasilnya. Saat ini saya tergabung dalam Suara Mahasiswa, UKM Jurnalistik satu-satunya di Universitas Indonesia, sebagai reporter. Aktivitas yang menunjang studi dan cita-cita saya dalam rangka mempersiapkan diri menuju dunia yang global *tsaaaaaah* Saya harus bisa membuktikan bahwa lulusan Sastra Indonesia tidak hanya pandai bersajak-sajak, tapi punya pengetahuan luas tentang budaya dan tanggap dengan keadaan di sekitarnya.

——-

UPDATE!

Halo, semua! Saya baru menyadari kalau post ini cukup populer dan menarik banyak pengunjung ^^. Well, terima kasih! Terima kasih karena sudah tertarik untuk memilih artikel ini dari daftar search-engine (saya tahu, pasti tulisan ini nggak memenuhi ekspektasi kamu, deh! Soalnya, tulisan ini malah ngalor-ngidul nggak jelas haha).

Sekadar info, tulisan ini saya buat ketika saya hendak menempuh pendidikan di Sastra Indonesia UI pada tahun 2011. Dulu, saya seperti kamu–bingung, gelisah, cemas, takut salah pilih, dan butuh pembenaran atas semua pilihan saya. Saya juga masih awam dengan dunia sastra, saya cuma tahu kalau sastra itu hanya berputar pada bacaan-bacaan saja. EYD saya masih lemah sekali (sekarang juga, sih! hehe). Jadi, jangan heran kalau masih banyak salah kata, salah eja, typo di sana-sini, dan segala macamnya.

So, saya cuma ingin menambahkan informasi dari apa yang tertulis di sini. Untuk kamu yang ingin memilih Sastra Indonesia sebagai major di dunia kuliah, jangan takut! Saya tahu, pasti banyak yang menyangsikan dan menentang pilihan kamu: mulai dari orangtua, teman, saudara, dan orang-orang di sekitar kamu. Tapi, kalau kamu yakin dengan pilihan kamu, maka percayalah bahwa hal-hal baik akan terjadi di hidupmu. Jangan takut susah dapat kerja karena major kamu, itu ketakutan yang sama sekali nggak terbukti. Senior saya di kampus selalu bilang, “Sastra Indonesia memang tidak bisa menjadi apa-apa, tapi bisa menjadi apa saja”. Itulah prinsip yang selalu saya pegang ketika kuliah. Dan, ternyata memang benar. Saya berhasil menjadi reporter di salah satu majalah fashion terkemuka, menjadi seorang human resources officer di perusahaan asuransi besar, menjadi content writer di majalah online untuk anak-anak, menjadi social media officer untuk UNESCO, dan menjadi SEO Strategist Team di perusahaan agency digital yang bermitra dengan search-engine besar (kamu pasti tau, deh! coba tebak :p).

Intinya, saya hanya mau bilang. Background kuliahmu tidak terlalu menentukan masa depanmu. Kamulah yang menentukannya. Kalau kamu fokus pada hal-hal yang membuatmu bahagia, membuatmu terus merasa menjadi versi terbaik dari dirimu, membuatmu merasa hidup, dan membuatmu terus maju, maka masa depan ada di tanganmu. Kamu bisa menjadi apa saja yang kamu mau, kok! Asal, kamu mau mengusahakannya. Tidak masalah kalau kamu kuliah di major yang menurut orang kebanyakan tidak menjanjikan masa depan. Tidak masalah kalau jurusan kuliahmu sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan karena skill bisa diasah saat kamu kuliah.

Intinya, jangan nyerah dan jangan takut memperjuangkan pilihan kamu, ya! ^^

Advertisements

7 thoughts on “Program Studi Indonesia: Antara Alasan dan Harapan

  1. d says:

    halo kak,
    kebetulan saya lg browsing, ktemu web ini, nama saya deni, saya pengen bgt masuk jurusan sastra indonesia di UI kak, mohon petunjuknya dong kak, apa aja yg perlu dsiapn untk masuk ke sana kak ?, oh ya, saya lulusan 2 tahun lalu, jadi saya ikut sbmptn, trus gmana pnglaman dsana ?, share dong kak, thanks ya,

    • Puji Eka Lestari says:

      Halo, Deni! Salam kenal 😀
      Aku jawab pertanyaan kamu satu-satu ya.

      Pertama, apa yang perlu disiapkan untuk masuk ke sana? Jawabannya: usaha, latihan, dan doa. Waktu tes SNMPTN dulu, aku ambil IPC karena mau masuk Arsitektur Interior (ini tujuan awalku) dan cadangannya adalah Sastra Indonesia. Karena milih IPC, otomatis aku harus mempelajari materi IPS juga disamping materi IPA. Aku belajar materi IPS secara otodidak, minjem buku-buku soal dari anak IPS. Untuk materi SNMPTN yang IPA, karena aku ini basic-nya anak IPA, aku sih cuma sering diskusi soal-soal sama temen dan guru. Oh iya, jangan lupa untuk rajin ngerjain soal SNMPTN dari tahun-tahun yang lalu. Itu membantu banget. Pas SNMPTN, ada beberapa soal yang SAMA PERSIS dengan soal beberapa tahun sebelumnya. Terus, sering-sering ikut Try Out.

      Kedua, gimana pengalaman di sana? Jawabannya, seneng banget! Nggak bisa dipungkiri dan nggak bermaksud untuk sombong juga, dosen-dosen di UI tuh memang berkualitas. Entah gimana caranya, mereka bisa membuat kita berpikiran lebih maju dan lebih menghargai diri sendiri. Mereka juga bisa memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan berprestasi. Terus, di Sastra Indonesia kita nggak hanya belajar soal puisi, cerpen, drama, atau dll. Nggak. Banyak banget yang kita pelajarin di sini. Kalo kamu pengen jadi jurnalis atau reporter, ada banyak ilmu yang bisa kita serap di jurusan ini. Selama dua tahun di Sastra Indonesia, aku sih ngerasa nyaman aja. Soalnya, aku suka baca dan suka bahasa 😀

      Kalo ada yang mau ditanyain lagi, boleh kirim ke email aku aja pertanyaannya —> pujiekalestari@rocketmail.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s