Jadilah milikku, mau?

 

Aku pikir kita bisa mencintai dengan sederhana seperti yang selalu dikatakan oleh Sapardi Djoko Damono. Mencintaimu saja, tanpa embel-embel apapun. Tapi ternyata tidak bisa ya. Mencintaimu tidak sesederhana itu. Dengan mencintaimu, itu artinya aku telah melanggar batas-batas yang secara kasat mata telah terbentang di antara kita.

Kamu mungkin bisa menyebut namaku dengan lugas tanpa rasa gemetar atau ragu sekalipun. Tapi, tidak denganku. Menyebut namamu adalah hal yang tersulit karena dalam waktu yang bersamaan aku harus menggenggam jantungku yang lompat-lompat tak karuan agar tetap berada ditempatnya, juga mengatur perasaan yang tiba-tiba membuncah tanpa ku sadari. Sulit. Mereka bohong kalau menyebut jatuh cinta adalah hal yang menyenangkan. Jatuh cinta itu sulit. Sesuai dengan namanya, ‘jatuh’ karena saat merasakan cinta duniamu seolah berputar 180 derajat dan menjungkir-balikkan hidupmu.

“What is up with you today? Tell me, come on.”

“Hah? Nggak ada apa-apa kok, Sel. Serius deh.” elakku.

“We are bestfriend, right? Masa kamu masih nggak mau jujur sama aku?”

Aku menarik napas. Susah menyembunyikan sesuatu dari seseorang yang sudah mengenalmu sejak lama. “Oke, I think I’m in love, Sel. Kaget kan? Jangan ketawa.”

Terdengar suara ramai di seberang sana. “Oh my god! Do, are you sure?! Ini beneran? Astagaaaaa, selamat ya. Aku seneng banget dengernya.”

“Yeah..I think it is. Aku juga nggak ngerti. Wish there was a more logical explanation to this. One day, I just realize that I’m in love with her. Just as simple and as silly as that. Weird, huh?”

Suara tawamu yang manis menggema di seberang sana. “Nggak aneh dong, Do. In a way, I think it’s really sweet. God, how I envy with her right now. So, be honest with me. Who do you like? Oh, she must be very lucky.”

“Definitely. Aku..bingung, Sel. What should I do?”

“After this, you’ll have to tell her that you’ve been in love with her all along. That would be awfully hard, Man. Iya kan? Now, go call her. Nanti telepon aku lagi, ceritain gimana responnya. Good luck!”

“Oke.”

Telepon diputus secara sepihak. Aku menarik napas sebentar, menata hati, lalu mengangkat gagang telepom dan menekan nomor telepon yang sudah kuhapal di luar kepala.

“Halo?” suara yang selalu terpatri dalam benakku langsung menyambut pada deringan pertama.

“Sel, listen to me. I’m still falling for one person, for one reason.”

“Who?”

“That’s you! Never changed. Since years ago, today, and wish it forever.”

“Hahaha, funny. But news flash, dear..belum ‘April’s fools day’ juga hari ini. So stop prankin’ me. Udah sana, telepon dia!”

“I’m dead serious, Sel. I’m in love with you. And it’s not just a brotherly love or friendly love or even anything like that. I mean, I really love you.”

“…”

“Sel, jadilah milikku. Mau?”

Advertisements

4 thoughts on “Jadilah milikku, mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s