When you’re ignored by the one person

Maybe I’m over you. Maybe I’ve moved on. Maybe I like someone else. But maybe, I’m just a really good liar.

Akhir dua ribu sebelas kau datang dengan segenggam harapan. Kau bilang aku harus mulai belajar mencintai.

Hatiku mengeras serta beku, namun aku tetap mencoba mencintaimu.

Waktu berlalu, hatiku mulai menghangat namun yang terjadi malah sebaliknya. Kau memutuskan untuk keluar dari kehidupanku dan mencari persinggahan hati yang lain di luar sana.

Aku berusaha untuk tidak peduli. Dengan pongah kubilang kau tidak ada artinya untukku. Manusia macam kau tak pantas untuk mendapatkan cintaku.

Tapi apa daya. Ternyata hatiku berkata lain. Dia yang tadinya membeku, sekarang mulai menghangat dan membuka.

Sayangnya hatiku terbuka hanya untukmu. Iya kamu, yang memutuskan untuk tidak mencintaiku lagi.

Aku bilang aku move on. Kamu bilang memang lebih baik aku move on.

Tapi aku tidak bisa melakukannya. Bayanganmu selalu  muncul setiap kali aku memutuskan untuk move on.

Makin lama kubiarkan, perasaan itu bertumbuh subur dan menjalar ke seluruh hati. Jatuh cinta itu sakit dan aku merasa terbanting oleh rasa yang kusebut cinta ini.

Ya. Lagi. Dan lagi. Terus menerus. Untuk kesekian kalinya. Aku jatuh lagi kepadamu. Semakin dalam. Semakin menyakitkan. Mungkin inilah repetisi yang paling sering kualami dalam hidup selain bernapas.

Menghapus bayangmu saja butuh bermalam-malam. Mengentaskan semua kebaikanmu butuh air mata yang tidak sedikit. Menghilangkan jejak-jejakmu tak semudah mengelap debu yang tertinggal di meja.

Semua membutuhkan waktu yang lama dan tidak terbatas.

Aneh. Padahal kau hanya singgah sebentar. Tapi dampaknya sangat besar padaku. Meluluhkan hati yang dulunya sudah mengeras dan tidak bisa dimasuki oleh hati-hati yang lain.

Jangan bilang aku berlebihan. Kau tak tahu bagaimana rasanya berada di posisi ini.

Mestinya aku belajar mengenai ketabahan. Mestinya aku belajar bagaimana mengatasi rasa sakit. Belajar tentang pengorbanan dan kasih sayang yang merelakan, melepaskan, seikhlas-ikhlasnya. Belajar mengerti mengapa manusia harus merasakan perasaan berduka.

Juga belajar membuka hati selebar-lebarnya.

Pelan-pelan semua harus berjalan ke titik normal. Perlahan tapi pasti aku mulai terbiasa untuk hidup sendiri. Memang betul katamu, yang berat itu bukan melupakanmu tapi menjalani semuanya dengan terbiasa tanpa kamu.

Tapi bolehkan aku sedikit berharap?

Kupikir kita bisa memulai lagi dari awal. Entah dengan cara apa lagi aku harus meyakinkanmu. Bahwa aku masih sayang. Masih cinta. Masih butuh.

Kamu.

Aku terlalu lelah untuk merasakan patah hati lagi.

Notes :

This story was inspired from Dearisa Muhlisiani Putri and Senna Prosandy Fatha. Semoga kalian balikan lagi ya (:

Advertisements

One thought on “When you’re ignored by the one person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s