Jarak

Stalking. Stalking. Stalking.

“Bahagia itu ketika mata kita bertemu dan langit Surabaya menjadi saksinya.”

“Wanna meet someone special with beautiful long hair. This day should be my day.”

“I still remember her smile all along day. Damn.”

Another lie.

Jadi begini rasanya memantau seseorang dari dunia maya?

Aku tersenyum hambar sambil memantau pergerakannya di timeline. Sudah pasti dia tidak tahu kalau selama ini kuselidiki terus tindak-tanduknya melalui twitter. Gila, jadi ini yang selama ini disembunyikan dariku?

Lagi-lagi menyoal masalah jarak.

Jarak ternyata bisa menjadi celah untuk membuat hubungan semakin berjarak. Jarak bisa memberikan celah bagi jiwa-jiwa kosong yang menggoda untuk mengisinya.

Jarak ternyata bisa membuatnya lupa, bagaimana sulitnya mendapatkan hatiku.

Dulu.

“Tenang saja. Jarak tidak akan menjadi masalah untuk kita. Trust me, we can. Kita pasti bisa bertahan.” begitu katamu, begitu kita berada di stasiun kereta untuk melepas kepergianmu.

Ah, ya. Tangerang-Surabaya. Terpisah ribuan kilometer. Perlu waktu yang tak sedikit untuk mencapai kota masing-masing. Tentu menjadi masalah untuk pasangan seperti kita.

Saat itu aku hanya menarik napas. “Jarak bukan lagi menjadi masalah, Gas. Jarak sudah bisa teratasi dengan teknologi. Yang tidak bisa diatasi adalah keberadaannya. Keberadaan kamu.”

Kamu tersenyum sambil menggenggam tanganku. “Bisa kok. Aku kan nggak selamanya di Surabaya. Setiap libur UAS juga pulang.”

“Tapi itu bukan jaminan kalo hatimu akan tetap utuh seperti sekarang.” gumamku.

Peluit kereta mulai dibunyikan. Waktu kita tidak banyak. Semakin sedikit waktu untuk saling menatap.

“Mana mungkin hati bisa berubah secepat itu. Tentu saja akan tetap utuh, atau mungkin malah bertambah, Ren. Itu yang tepat.” ujarmu sambil tertawa.

Ya. Semoga saja begitu.

Well, goodbye for now. Semoga bisa bertemu secepatnya!” serumu sambil mengangkat backpack coklat kesayanganmu.

Aku melambai sampai bayanganmu menghilang dalam peron kereta. Lalu kereta mulai bergerak menjauh ke utara. Jauh, sampai menjadi sebuah titik lalu hilang di pandangan.

Dan ternyata, kau memang semakin jauh dalam angan. Itulah faktanya.

Aku terdiam membaca deretan kalimat di timelinenya. Tanpa sengaja aku melihat salah satu mention darinya untuk gadis yang tak kukenal. Tapi aku yakin, sepertinya dialah muara semua tweet manis yang ditulisnya selama ini.

@gitagita ah ya. sure, we gonna have it next week. haha i don’t have a crush or girlfriend. so why?

Sesak.

Dengan tergesa aku meraih ponsel dan menekan nomor yang sudah kuhapal di luar kepala.

“Halo?” sapamu dari seberang sana.

Aku terdiam. Astaga, betapa aku merindukan suara yang tegas ini. Kapan terakhir kali aku mendengarnya? Rasanya sudah lama sekali.

Hening selama beberapa detik.

“Ren, aku lagi sibuk. Kalo nggak penting banget mending ditutup aja teleponnya. Nanti kalo semuanya udah beres aku telepon.”

Lalu telepon di putus secara sepihak.

Dan dia tidak pernah menelepon sampai beberapa minggu ke depan. Bahkan untuk membalas pesan singkat saja butuh waktu yang amat sangat lama. Sejam dua jam tiga jam…

Hingga sebuah percakapan panjang yang terjadi di suatu malam. Kita tidak bertengkar. Tidak juga berdebat. Tapi semua itu tidak juga mengurungkan keputusanmu.

The only thing which is unpredictable is human’s emotion. It is just dont trust them too much, they can change.” bisikmu. “I know it’s hard. But, we can’t stand with this anymore.” lanjutnya lirih.

Aku terdiam. Perlahan hatiku merepih.

We could never last even if we tried to,” ujarmu lagi.

Masih diam. Semua ini terlalu cepat. Bahkan terlalu fiksi untuk menjadi nyata.

“Ya.. all I’m saying is that.” katamu. Lalu menarik napas sebelum melanjutkan lagi. “Dan aku minta maaf, kalau selama ini aku bikin kamu kesel atau apalah,”

Aku menyadari bahwa semuanya sudah berakhir. Bahwa semua yang sudah dibangun, hancur dan luluh lantak begitu saja. Dengan membuka hati selapang-lapangnya, aku tersenyum.

“Oke, kalau itu keputusan kamu. Aku terima.” bisikku lirih. “Kalau kamu tanya perasaan aku sekarang gimana, masih sama kok. Sebesar yang dulu. Its only because, I really like you. Tapi yaudahlah, as you say, we could never last even if we tried to, rite?

Kamu tertawa satir. “Jadi, see you when I see you..hope you have a nice life.” 

Aku menarik napas panjang. “You too. Semoga langgeng sama Gita. She is a nice girl.” ujarku tulus.

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, kamu terkesiap di seberang sana. Mungkin bertanya-tanya darimana aku bisa tahu tentang seseorang yang bernama Gita. Seseorang yang keberadaannya kau sembunyikan dariku.

Aku langsung menutup telepon. It sucks when you are ignored by the one person who’s attention means the world to you.

If you have forgotten about us, just do it. I just dont understand why it happens to me.

 

Notes:

Kisah ini di buat berdasarkan permintaan Maryagita Diah N. Semoga ini bukan kisah nyata ya, Git ((:

Advertisements

7 thoughts on “Jarak

  1. ikkimassu says:

    jadi. di dunia maya kita bisa melakukan 2 hal sekaligus..
    – melakukan sesuatu yang sembunyi-sembunyi secara terang-terangan
    – melakukan sesuatu yang terang-terangan dengan sembunyi-sembunyi…

    terkadang cinta memang menyulitkan *rada pilosopis*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s