Romantisme datang bersama tetesan hujan

“Hai, Ren.” sapa Ogi. Pundaknya naik turun, terengah-engah setelah berlari puluhan kilometer untuk mengalahkan kemacetan kota demi mencapai kedai kopi ini. Kemeja flanelnya terbuka seluruhnya, menampilkan kaus birunya yang kini basah oleh keringat.

Aku menoleh.

Lagi-lagi menahan napas. Terpukau seperti biasanya. Dengan sigap memegang kendali atas jantung yang tiba-tiba lupa akan fungsinya. Menahan gempuran rindu yang luar biasa melanda.

Kamu tidak muncul di dalam kepalaku lagi. Tapi melewati batas angan dan menjelma menjadi nyata, bukan lagi fatamorgana.

“Eh, Gi…”

Tanpa basa-basi, dia menggeser kursi di hadapanku. Meletakan cangkir kopi yang dipesannya dengan tergesa, lalu duduk di sana dalam diam. Mengamatiku.

Tidak ada yang berubah darinya, masih sama seperti dulu. Rambutnya masih mengikal sempurna, matanya masih berwarna coklat gelap, gaya berpakaiannya masih kasual seperti biasa, dan tubuhnya lebih berisi sekarang. Dia tampak baik-baik saja, dengan atau tanpa aku.

“Sekarang kamu seperti langit mendung menjelang hujan. Tidak seperti dulu, hangat seperti matahari pagi.” ujarnya sambil tertawa kecil.

Aku balas tertawa satir. See, semua ini gara-gara kompas hatiku rusak karena kamu. Aku tak berminat membalas pernyataannya.

Lagi-lagi, dia masih sama seperti dulu. Gemar berkata-kata dengan kalimat indah yang melenakan.

“Tumben kamu mampir kesini. Biasanya lebih suka minum kopi di rumah.” kataku.

Ogi tertawa. “Sengaja. Aku sering lihat kamu duduk di sini. Di tempat yang sama setiap saat.”

Aku mengerutkan dahi. “Sengaja? Ada yang mau kamu omongin?”

Dia mengangguk kecil. Meminum kopinya sebelum mulai berkata-kata.

Your life…it’s built upon sorrow.” bisik Ogi.

Aku memandangnya lekat-lekat. Jangan bilang dia datang terengah-engah seperti ini hanya untuk mengatakan sebaris kalimat itu. “How could you say so? Aku baik-baik saja.”

Ogi terdiam sebelum menjawab. “Your eyes.

Eyes? What do they tell you?

Exactly the similar pain I see everytime I look at the mirror.” katanya.

Lalu keheningan menyapa di sana. Masing-masing dari kita hanya diam dan berkutat dengan pikiran masing-masing. Menambahkan asumsi yang menguar di langit-langit.

“Kupikir kita sama sepinya. Sama-sama menerawang jauh pada kanvas putih luas yang tak berujung. Kosong.” ujar Ogi lagi.

“Dan semua perasaan kosong itu sayangnya selalu mengarah ke padamu.” balasku lirih.

Ogi tersenyum. Hangat. “Kompas rasa ini selalu menunjuk ke arah yang sama.” bisiknya. “Bagaimana kalau kita satukan kembali hati-hati yang pernah terpecah menjadi jalinan yang manis?” lanjutnya.

Di luar kedai kopi, langit dicabik petir. Kemudian bersama tetes pertama air, romantisme datang bersama tetesan hujan.

Notes :

Di tulis berdasarkan permintaan Rengganis Alfa Chikita. Kisah ini adalah akhir dari Sendiri. Dan mungkin akan terus merasa sendiri serta Sang Pengagum

Advertisements

6 thoughts on “Romantisme datang bersama tetesan hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s