Jarak itu sebenarnya tidak pernah ada

“Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.”
–Joko Pinurbo

Kalau tidak merasakan sakit dalam perjalanan mencari, menemukan, dan memiliki cinta, mungkin prosesnya tidak akan dinamai jatuh cinta. Ya, cintanya memang manis. Tetapi jatuhnya tidak. Jatuh adalah ketika hatimu tergolek penuh memar dan luka sementara cinta adalah perasaan yang membuatmu mampu bertahan dengan perasaan sakit itu. Ironis, seringnya seseorang yang kau cinta hanyalah satu-satunya penyebab mengapa hatimu sering terluka.

That’s why I never trust someone who said that he loves me. Human emotion is unpredictable. They can change. 

Padahal hidup nggak melulu bicara tentang cinta, dangkal sekali. Dan cinta bukan identik dengan lawan jenis saja, tapi ada cinta untuk sesama, untuk semua makhluk hidup yang ada di dunia ini.

I’m not a philophobic. Aku bukan seseorang yang takut jatuh cinta.

Aku cuma merasa lelah terus-menerus merasakan sakit hati. Aku hanya ingin cinta saja, tanpa ‘jatuh’ dalam prosesnya.

Layar handphoneku berkedip. Sebuah pesan baru hinggap di kotak masuk.

Mungkin aku belum pernah membuatmu bahagia. Tapi aku bisa membuatmu tersenyum dalam menghadapi hari-hari yang berat. Sesederhana itu.
Adit

Aku mengabaikan pesan itu dan kembali berkutat dengan angka-angka dalam buku setebal lima sentimeter. Layar handphone berkedip lagi, membuat konsentrasiku buyar.

Kapan kamu pulang? Mungkin kita bisa menyatukan lagi hati yang sempat terpecah.
Adit

Aku menggeleng. Tidak. Tidak akan ada lagi penyatuan hati. Kamu sudah menyia-nyiakannya. Menyakiti lagi, memecahkan lagi, meniup balon-balon harapan hingga menggembung, lalu menusuknya hingga pecah. Tidak. Aku sudah memberimu kesempatan satu kali. Dan tidak akan ada lagi kesempatan yang lain.

Lagipula, kamu sendiri yang bilang kalau memelihara hubungan dengan jarak yang membentang adalah hal yang sulit dilakukan. Kita pernah mencobanya satu kali. Dan gagal.

Dan lagi-lagi pihak yang merasa tersakiti adalah aku. Bukan kamu. Bukan siapapun.

Kamu bilang kamu dihadapkan pada pilihan yang sulit, seakan kamu yang dipilih oleh pilihan tersebut. Kamu egois. Kamu ingin semuanya. Kamu tidak mau memilih.

Sudahlah. Mungkin sayangmu semu. Cintamu semu. Yang kau rasakan hanyalah ego seorang lelaki untuk tetap mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Delete all messages.

Ternyata memang benar. Cara pergi selalu lebih berkesan dibandingkan dengan bagaimana kita datang. I’m better move on.

I just felt like I’m a winner because I could go out from a big hole of the bitterness.

 

Notes:

Inspirasi datangnya dari Fika Rezita. Mungkin ceritamu lebih kompleks dari ini. Cheers (:

Advertisements

4 thoughts on “Jarak itu sebenarnya tidak pernah ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s