Peso, Si Pesulap

Angin dari halaman belakang berdesir melintasi deretan pepohonan dan menimbulkan gemersik dedaunan, berputar di langit-langit kamar dan keluar lagi melalui jendela yang sama. Aku baru saja hendak berbaring di tepi jendela ketika kulihat seberkas cahaya kemerahan menyembul di balik awan.

Ini bukan hal yang biasa.

Aku bangkit berdiri. Memperhatikan langit dari daun jendela. Jika saja ayahku masih hidup, tentu saja dia akan memiliki jawaban atas fenomena langit yang tak biasa ini. Ayahku selalu memiliki jawaban atas semua pertanyaan.

Cahaya semakin pekat. Semakin merah.

Kupicingkan mata. Aku menangkap sosok yang berdiri di salah satu awan. Dia memandangiku. Dia menggunakan jubah puti, topi tinggi, serta kacamata. Wajahnya datar.

Saat aku berkedip dan membuka mata, sosok itu telah berdiri di depanku.

“Siapa kau?” tanyaku perlahan. “Apakah kau malaikat?”

Sosok itu masih memandangiku. Dia menggeleng kecil. “Aku Peso. Si pesulap.”

“Mengapa kau muncul di awan?”

“Aku baru saja menyelesaikan tugas suci.” jawabnya pendek. Warna suaranya dalam dan datar.

Dahiku berkerut. “Tugas suci apa?”

“Mengabulkan permohonan manusia. Tapi, aku bukan Tuhan.”

“Kau bisa mengabulkan permohonan manusia?”

“Tentu saja. Aku seorang pesulap. Aku bisa menyulap apapun yang kau mau.”

“Mengapa kau lakukan itu?”

Peso terdiam. “Aku ingin membuat dunia menjadi lebih baik. Aku percaya manusia masih memiliki hati yang baik.”

“Jadi, kau hanya mengabulkan permintaan manusia yang baik?”

“Ya. Dengan alasan tertentu.”

Aku mengangguk-angguk. “Kalau begitu, bisakah kau mengabulkan permintaanku?”

“Dengan senang hati. Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin kau menghapuskan semua gedung-gedung dan pabrik penghasil polusi serta menggantinya dengan padang rumput luas atau pepohonan hijau. Dengan begitu, tak ada lagi manusia yang harus meninggal sia-sia karena keracunan zat kimia hasil pabrik atau terluka saat membangun gedung.”

“Kau memohon agar tak ada lagi korban seperti ayahmu yang meninggal karena menghirup gas beracun?”

Aku mengangguk. Aku ingin bumi menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali tanpa polusi dan hutan beton semacam itu.

Peso mengibaskan lengannya. Dalam sekejap gedung-gedung menghilang dari pandanganku.

***

Catatan :

Saya tidak tahu tulisan ini bisa digolongkan sebagai dongeng atau tidak. Ini pertama kalinya saya mencoba untuk menulis dongeng. Ternyata sulit sekali, ya. Salut untuk mereka yang dengan mudahnya menerjemahkan imajinasi dalam kepala dan mampu menuangkannya sebagai dongeng dengan bahasa yang mudah dipahami dan lugas!

Advertisements

2 thoughts on “Peso, Si Pesulap

  1. Teguh Puja says:

    It was a good shot indeed, Tari. 😉
    Ayo tetap ikut bersama-sama menulis ya sampai akhir. Kita sama-sama saling belajar.

  2. myalizarin says:

    Endingnya agak nanggung, kalau aja diterusin sedikit. Dan sama seperti kata Teguh, ayo terus menulis sampai akhir. Kita semua sedang proses belajar kok 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s