Jingga di Ujung Senja

“Dia datang kemari.”

Aku menatapnya tajam. Dia yang berdiri tegak di seberangku ini memang suka ribut sendiri. “Bukan hal yang luar biasa kan?” desisku.

Yang dilihatnya adalah seorang perempuan cantik yang menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Seperti biasa, perempuan itu berdiri di selasar jembatan dan memandang kejauhan sambil tersenyum. Mungkin mengukur seberapa jauh matanya mampu menjangkau keseluruhan Sungai Musi.

Senja sudah merambah kemana-mana. Warna kemerahannya merajai langit yang awalnya berwarna biru menyenangkan.

“Tentu saja hal yang luar biasa. Ah tapi lihat, wajahnya berubah sendu sekarang.”

“Lalu kau mau apa?” tanyaku kesal. “Menghampirinya lalu mengatakan semuanya akan baik-baik saja?”

“Aku tak tahan melihat senyum yang biasa menghias wajahnya menghilang.”

“Percuma. Kau tak akan bisa melakukan apa-apa.”

“Ah, ya. Kau benar.” suaranya memelan sekarang.

Kami sama-sama menghembuskan napas. Kecewa.

Sebagai lampu jalan yang membingkai sepanjang jembatan, kami memang tak bisa melakukan apa-apa selain menerangi.

Selamanya kami akan tetap jingga.

Jingga di ujung senja.

Advertisements

5 thoughts on “Jingga di Ujung Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s