Pilihan

(Sumber)

Entah, aku memiliki secuil perasaan yang selalu menggangguku sejak beberapa bulan lalu. Caramu menyentuhnya, caramu menggodanya, caramu berbicara dengannya, segala macam kontak yang kamu lakukan dengan dia memiliki arti. Semuanya mendorongku pada sebuah kesimpulan: kamu menyukainya. Kamu menyukai dia yang juga kusukai. Ini jelas mencoreng egoku. Aku tidak pernah menyukai seseorang yang disukai oleh sahabatku sendiri meskipun pada konteksnya aku yang lebih dulu menyukainya. Semua ini semakin kompleks ketika dia yang sama-sama kita suka menyukai orang lain. Kita sama-sama tersakiti, namun hal ini tidak membuat kita berhenti menyukainya bukan?

Aku tahu kamu tersiksa ketika dia lebih memilihku untuk menceritakan perasaannya tentang segala hal. Aku mengerti perasaanmu. Aku juga merasakan hal yang sama, tepat ketika dia lebih memilihmu untuk bercanda dan tertawa bersama. Kita sama-sama perempuan. Kita sama-sama menggunakan perasaan sebagai kompas dibandingkan pemikiran secara rasional. Kita berbagi banyak rahasia. Kita melalui berbagai macam kejadian bersama.

Tidak perlu bertukar kata-kata untuk mengetahui kamu tersakiti. Tidak perlu ribuan kata-kata untuk mengungkapkan bahwa kamu menyukainya. Menyukai dia yang juga kusukai. Aku, sahabatmu yang sudah mengenalmu luar dalam selama empat tahun.

Aku mengerti. Aku dan dia sama-sama penting. Akan tetapi, begitu dihadapkan pada dua pilihan, kamu lebih memilih dia. Iya, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s