Cinta itu meskipun, bukan karena

Banyak orang yang beranggapan kalau cinta sejati adalah cintanya Romeo dan Juliet. Akan tetapi, setelah saya membaca dan mengkaji naskah drama milik Shakesphare yang fenomenal ini dalam mata kuliah Pengkajian Drama, saya menjadi skeptis dengan anggapan tersebut. Benarkah Romeo dan Juliet benar-benar menggambarkan cinta sejati? Apakah cinta sejati harus dilambangkan dengan mati bersama hingga muncul istilah cinta sehidup-semati? Begitukah?

Konsep cinta yang ditawarkan dalam Romeo dan Juliet adalah konsep cinta yang buta. Cinta buta yang memabukkan, terasa manis di awal namun pada akhirnya mematikan seperti racun ular. Bukan hal yang salah sebenarnya, karena Shakesphare memang ingin menggambarkan percintaan antara dua sejoli yang umurnya masih belasan tahun dan masih gamang secara psikologis. Selain itu, poin utama dalam naskah drama ini adalah pertentangan antara dua keluarga, yaitu Montague dan Capulet, yang sudah mendarah daging di Verona. Percintaan antara Romeo dan Juliet adalah bumbu untuk membuat konflik semakin tajam. Kematian keduanya, menurut saya, adalah kesalahan tragis sebagai imbas dari permusuhan antar keluarga tersebut. Perang dingin dari keluarga Montague dan Capulet yang disebabkan oleh entah apa telah membawa kematian bagi dua manusia muda dalam masing-masing keluarga.

Bisa disebut kesalahan tragis, bukan?

…dan saya nggak melihat adanya cinta sejati sepanjang masa seperti yang diagung-agungkan orang banyak.

Kisah ini romantis loh. Romeo itu tipikal cowok setia. Dia memutuskan untuk bunuh diri ketika mendengar kabar kematian Juliet meskipun pada kenyataannya kematian Juliet hanya kedok untuk mengelak dari perjodohannya dengan Paris.

Kalimat di atas sering sekali saya dengar ketika kita membicarakan kisah Romeo dan Juliet. Ada yang janggal dari kalimat tersebut. Romeo sangat setia. Setia? Betulkah? Jangan melupakan fakta bahwa Romeo datang ke pesta keluarga Capulet dalam keadaan patah hati berat terhadap seorang gadis bernama Rosaline dan ketika melihat Juliet, semua perasaan patah hatinya menghilang.

Menurut saya kisah ini bukanlah kisah tentang cinta sejati. Jelas-jelas Romeo beserta kekasihnya, Juliet adalah perwujudan dari manusia-manusia yang disetir oleh nafsu serta emosi yang berlebihan. Romeo terlalu memuja Juliet, begitu juga sebaliknya. Mereka lupa, kalau mereka adalah manusia dan manusia tidak pantas untuk dipuja sedemikian rupa karena manusia bukan makhluk sempurna.

Tapi, yah. Sekali lagi saya tegaskan, Romeo dan Juliet adalah karya sastra. Pendapat ataupun kajian mengenai hal ini bebas dilakukan oleh pembaca. Tentunya interpretasi terhadap karya ini pun berbeda-beda.

Bagi saya, cinta sejati nggak boleh subjektif. Cinta bukanlah sesuatu yang abstrak. Cinta sejati harus jelas, bisa dinalar dengan otak. Cinta sejati itu tidak buta. Tidak pernah buta. Cinta sejati selalu melihat. Semua kekurangan terlihat jelas. Cinta sejati adalah suatu keadaan dimana kita bisa menerima pasangan kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Cinta sejati adalah bagaimana kita mencintai secara ‘normal’ bukan memujanya. Kita tahu pasti bahwa pasangan kita adalah manusia, makhluk Tuhan, yang punya kekurangan dan cacat. Kita mencintainya meskipun dia penuh dengan kekurangan. Mereka cukup dicintai sewajarnya saja, dicintai karena kekurangannya, dan diterima dengan kelebihannya. Dengan begitu, kita bisa lebih bijak dalam mencintai.

Jadi, nggak salah dong kalau saya punya tagline baru untuk menggambarkan konsep ciinta sejati? Cinta itu meskipun, bukan karena.

#Halaman 8 dari 365

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s