Pohon

Aku ingin menggambar sebuah pohon dengan daun-daun yang gugur tertiup angin. Juga dengan bangku taman yang berisi aku dan kamu yang duduk di antaranya. Di sana, kita berbagi kecemasan dan segala hal yang memberatkan ikut menghilang bersama suka. Lalu, kamu mengingatkanku bahwa sepi terkadang berwarna oranye yang datang bersama senja di langit sana. Akan tetapi, aku menyangkal. Sepi terkadang terasa lebih menyakitkan ketika hujan turun. Ramai di luar tapi terasa sepi di dalam. Kita cuma tertawa dan menangkap daun-daun yang bergelantungan di atas kepala.

Aku ingin menggambar sebuah pohon dengan daun-daun yang gugur dan berwarna kehijauan. Tapi, astaga. Pewarnaku habis. Aku butuh hijau yang baru. Bukan oranye atau merah yang menyala. Kulirik tempat pensilku. Yang tersisa hanyalah hitam dan putih. Dua warna monoton yang menyisakan abu-abu. Aku benci dua warna itu. Abu-abu adalah sebuah ketidakjelasan. Tidak sepenuhnya putih dan tidak sepenuhnya hitam. Tapi tak ada warna yang benar-benar putih atau benar-benar hitam.

Aku ingin menggambar sebuah pohon dengan daun-daun yang berjatuhan di sekitar kakiku.

Tapi, aku lupa. Aku tidak bisa menggambar.

Jadi, aku menutup buku gambarku dan berjalan ke taman terdekat. Di sana, ada bangku dengan pohon besar yang menaunginya. Daun-daun berguguran. Warnanya kehijauan.

Aku duduk di sana. Memejamkan mata. Ini sempurna.

Dan pada setiap daun yang terlepas dari dahannya, semua anganku ikut meluruh. Terbang dan menghilang bersama angin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s