Tentang Blog dan Perubahan

Waktu mengubah seseorang. Bener, nggak?

Saya sendiri setuju dengan pendapat ini. Waktu memang mengubah seseorang, entah dari segi fisik, emosionalnya, atau sudut pandangnya terhadap sesuatu. Nggak mungkin ada orang yang tetap, still the same, stagnan, dan apalah namanya. Setiap orang pasti berubah dan perubahan itu adalah satu-satunya yang pasti dari segala ketidakpastian.

Terus ngapain sih saya ngomong ngalur ngidul nggak jelas ngomongin perubahan? Siapa yang berubah? Kenapa saya nggak nulis curhat pake bahasa Inggris lagi kayak biasa? Kamu berubah? Dia berubah? Pacar kamu berubah? #UdahPutusinAja

Jadi, begini. Dulu banget pas pertama kali saya bikin blog, tujuannya adalah untuk curhat. Mungkin kalo kalian lagi nggak ada kerjaan, boleh banget ceki-ceki postingan saya di bulan pertama ketika blog ini dibuat. Isinya? Sampah otak. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah curhatan gaje ala remaja abege yang telat akil balig #halah

Terus saya semakin gede. Semakin dewasa. Semakin bingung sama hidup. Semakin pusing sama pilihan. Semakin males curhat di wordpress karena banyak yang baca. Tapi, saya tetap ingin ngehidupin blog ini. Tetap ingin ngisi dengan tulisan-tulisan saya. Akhirnya, di awal tahun saya kenalan sama nulisbuku. Kenalan sama yang namanya flashfiction. Kenalan sama orang-orang yang isi blog-nya bagus-bagus. Yang isi blog-nya adalah cerita-cerita seru yang bisa saya nikmati dengan gratis.

Saya juga kepengen punya blog yang kayak gitu. Tapi, saya sadar tulisan saya nggak bagus-bagus amat. Ketika saya mikir gitu, tiba-tiba juga saya dapet kesadaran baru: ya tulisan saya nggak akan bagus-bagus kalo saya nggak latihan. Oleh sebab itu, saya nyoba nulis. Tulisan pertama yang saya post, viewers-nya dikit, komennya nol. Oke, gapapa. Tulisan kedua, mulai naik viewers-nya tapi masih nol komentar. Saya coba lagi, coba terus, ngetik terus, ubah sudut pandang, belajar dari teman-teman menulis, dan Alhamdulillah ada sedikit perbaikan. Teman-teman terdekat mulai minta dibuatin flashfiction berdasarkan kisah cinta mereka. Oke, saya terima. Saya anggap ini sebagai bahan latihan. Seneng banget waktu tahu mereka suka dan share tulisan saya ke teman-teman mereka.

Saya berubah. Setidaknya dari segi konten blog, saya berubah. Blog saya mulai ramai, mulai banyak yang subscribe, mulai banyak yang share ke link sosial media, dan banyak yang komen langsung ke saya kalau mereka suka cerita-cerita saya.

Kemudian saya mulai masuk kuliah. Tugas, kegiatan masa maba yang dateng terus kayak kenangan masa lalu (plis), hal-hal baru yang nggak ada di SMA, mulai bikin saya sibuk. Kalian tahulah, menyesuaikan diri itu tidak pernah mudah. Maka, saya mulai melupakan blog. Saya jarang nulis lagi. Maka, postingan cerita-cerita mulai berakhir di sini. Sayangnya nggak berakhir di Januari, makanya Glen nggak bisa nyanyi. Sori.

Setelah fase posting tulisan flashfiction, blog ini kembali mengalami perubahan. Salah satu perubahan besar yang saya rasakan adalah ketika saya lagi suka-sukanya sama Lang Leav, penyair yang puisinya berdarah-darah saking sadis dan jleb-nya. Saya suka banget sama gaya penulisan Lang Leav. Puisinya manis, kadang pendek dan kadang panjang, tapi satu hal yang tetap: tulisannya selalu bisa menyentuh jiwa terdalam saya yang seringnya kering (?).

Bisa ditebak kan kelanjutannya? Iya dong, saya juga kepengen nulis-nulis puisi kayak Lang Leav gitu. Di sinilah awal mula saya nulis pake bahasa Inggris. Bahasa Inggris saya nggak bagus-bagus amat, tapi saya mulai suka nulis puisi pendek. Sensasinya luar biasa. Nulis pakai bahasa Indonesia tentunya lebih mudah karena kosakata yang kita miliki jauh lebih luas dan lebih beragam. Akan tetapi, ketika menulis dengan bahasa kedua alias bahasa yang bukan bahasa Ibu kita, tantangannya jauh lebih lebar. Ketika kita mau menulis A tapi nggak tahu bagaimana menuliskan A dalam bahasa Inggris, ketika kita tidak tahu mau menulis apa tapi tiba-tiba ada kosakata yang menarik untuk dibikin tulisan, ketika kita harus menahan ide karena kita nggak tahu bagaimana menuliskannya, yaah hal-hal seperti itulah. Saya menikmati proses menulis kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris sama seperti saya menikmati membacanya.

Tidak lama setelah itu, saya mendapat internship di sebuah majalah yang menggunakan bahasa Inggris di segala segmen pekerjaannya. Saya beruntung dan bersyukur banget sama opportunity yang saya dapet. Ayolah, saat itu saya masih mahasiswa. Saya masih cupu. Saya nggak tau apa-apa tentang dunia kerja, tentang media, tentang penerbitan, tentang kehidupan sesungguhnya di balik ruang redaksi, dan saya diterjunkan langsung untuk kontribusi. Buat yang masih mikir kalau anak magang palingan cuma disuruh fotokopi, bikin kopi, atau gabut-gabut gak jelas, you are definitely wrong. Saya sama sekali nggak ngalamin hal itu. Diajak rapat redaksi, disuruh liputan sendirian, diajak terlibat dalam photoshot yang rempong tapi luar biasa seru, dan lain sebagainya. Nggak ada tuh yang namanya gabut-gabut nungguin jam pulang kerja. Yang ada malah saya nggak sabar nunggu pagi supaya saya bisa ke kantor dan berdoa supaya hari nggak cepat berakhir karena saya suka banget kerja di kantor itu :p

Oh, iya, Balik lagi ke masalah bahasa Inggris. Jadi, majalah tempat saya magang ini adalah majalah fashion yang basisnya internasional. Kebayang kan gimana si bahasa Inggris ini menjadi bahasa yang kudu wajib dikuasai karena akan dipergunakan dalam setiap jobdesk saya? Maksudnya, bahasa yang digunakan sehari-hari tetap bahasa Indonesia, namun bahasa yang digunakan untuk bekerja adalah bahasa Inggris. Saya harus menghubungi kontributor asing via email (yang tentu saja bahasa pengantarnya adalah Inggris), datang ke sebuah acara yang isinya bule semua dan mau nggak mau harus ngobrol sama mereka, membuat transkrip wawancara yang durasinya selalu lebih dari satu jam dalam bahasa Inggris (percayalah, ini nggak mudah. sungguh!), menerjemahkan artikel empat halaman yang ditulis dalam bahasa Inggris (saya paling suka yang ini! suka banget!), ngetwit berita pake bahasa Inggris, atau bahkan mencari breaking news tentang perempuan di news site yang sudah ditentukan. Semuanya membutuhkan bahasa Inggris. Semuanya menuntut saya untuk familiar dengan bahasa Inggris. Dan bagi saya yang nggak pernah mempelajari bahasa ini dengan sungguh-sungguh, sejujurnya saya kewalahan. Saya bisa, tapi saya nggak menguasai banget.

Mulai dari titik ini saya mulai berniat untuk berubah. Saya kepengen naikin skor toefl, saya kepengen bisa cas-cis-cus tanpa mikir, dan saya mau lancar nulis dalam bahasa Inggris. Jadi, saya mulai nonton serial New Girl tanpa subtitle bahasa Indonesia. Saya mulai beli novel-novel bahasa Inggris dan membabatnya sampai habis. Saya mulai nulis dalam bahasa Inggris. Yang tadinya cuma kuat nulis dua sampai tiga kalimat, mulai berkembang jadi satu paragraf. Saya nggak terlalu mikirin soal tenses, grammar, dan kawan-kawannya. Yang saya pikirin adalah gimana caranya orang bisa ngerti sama tulisan saya yang seringnya nggak jelas.

Jadilah fungsi blog saya kembali mengalami perubahan. Dari curhatan, ke tulisan flashfiction, ke puisi ala-ala Lang Leav, sampai tulisan-tulisan pendek saya dalam bahasa Inggris.

Keliatannya nggak konsisten ya? Boam alias bodo amat.

Saya latihan terus, saya nyoba nulis pake bahasa Inggris, nyoba ninggalin komen ke blog orang bule untuk ngelatih percakapan sehari-hari, nyoba nulis tweet, caption di instagram, sampe status line dalam bahasa Inggris. Pokoknya kalau kalian temenan sama saya di media sosial, pasti tau deh. Percayalah kawan-kawan, saya bukannya lagi berlagak atau sok-sokan ngomong bahasa Inggris. Saya lagi latihan. Saya mau belajar dan saya nggak mau setengah-setengah :’)

Terus sekarang apa?

Dua minggu lalu saya ikut prediction test toefl. Alhamdulillah, perjuangan saya ada hasilnya. Nggak memuaskan, tapi lumayan banget mengingat saya nggak ikut kursus. Cuma beda 10 poin dari target yang sudah saya tetapkan. Nggak apa-apa, masih prediction kok belum tes aslinya hehe. Saya bersyukur pokoknya. Tinggal satu lagi yang harus saya lancarin: speaking. Latihan writing udah, reading udah, dan listening udah.

Nah, saya rasa blog ini harus kembali berubah. Sebab apa yang saya kejar sebelumnya sudah tercapai. Sekarang, saya mau ngehidupin lagi semangat nulis saya. Saya masih nulis sih, tapi nggak pernah saya saya share di media sosial. Ada beberapa draft yang saya endapkan dan kayaknya saya mau bikin tulisan ini jadi cerita bersambung di blog (kalo nggak males :p). Salah satu ceritanya berjudul Game On! Inspirasinya datang dari topik skripsi saya tentang kejahatan yang terorganisasi. Sejauh ini, Game On! udah saya tulis sampai 3 chapter. Saya nggak tau gimana cerita ini akan berakhir atau gimana konfliknya, yang jelas saya cukup menikmati proses nulisnya (iyalah, risetnya udah saya lakuin pas skripsian :p).

So, teman-teman sekalian yang entah bagaimana bisa berakhir di postingan ini, jangan heran kalo setelahnya saya akan nulis cerita-cerita aneh dan nggak jelas. Kalian tidak berkewajiban untuk membacanya kok, percayalah :p Saya cuma ingin menulis cerita lagi, berkhayal lagi, dan berbagi di blog saya. Syukur-syukur ada yang suka. Kalo nggak ada yang suka ya nggak apa-apa, yang penting saya suka kamu (?).

Begitulah. Saya berubah dan blog saya pun mungkin akan terus berubah. Dan percayalah, saya punya alasan dibalik setiap perubahan-perubahan yang saya lakukan. Kamu nggak perlu tahu, kamu cuma perlu menerima aja.

Cheers!

TR

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s