Seven Fun Facts About “Dear Ellie”

fun-facts

(Warning! Possible spoilers ahead. Kalau belum baca Dear Ellie dan berniat untuk membacanya, entah hari ini, esok, atau bahkan tahun depan, lebih baik berhenti dan jangan ngintip fakta-fakta ini.)

Masih lanjut?

Oke, saya asumsikan kamu sudah membaca novel saya atau mungkin belum baca tapi mau kepo-kepo dulu tentang Dear Ellie. That’s okay, asalkan abis baca langsung beli novelnya yaa. So, ini dia beberapa fun facts yang nggak terlalu fun tapi tetep seru untuk ditilik:

  1. Dear Ellie ditulis tahun 2014. Beberapa bulan setelah The Days With You terbit, saya mulai menggarap cerita baru. Kali ini latarnya di Indonesia dan melibatkan empat orang siswa SMA (yang bukan Ketua OSIS, apalagi cheerleader, dan nggak tajir melintir—jadi, ini bukan formula teenlit pada umumnya ya lol). Kisahnya cukup kelam, melibatkan cerita masa lalu yang dark dan teen angst-nya cukup kuat. Draft itu sudah setengah jalan, bahkan konflik dan penyelesaiannya pun sudah jadi, sayangnya saya merasa belum ‘berani’ melepas naskah itu. Di tengah suntuknya proses penulisan, Ellie muncul bersama tokoh lainnya, dan ‘memaksa’ saya untuk menuliskannya.
  2. Proses penulisan Dear Ellie cenderung ringan dan mudah. Percaya atau tidak, saya hanya membutuhkan waktu dua minggu nonstop untuk menyelesaikannya. Untungnya, saat itu saya sedang libur kuliah dan program magang yang saya ikuti juga nggak padat-padat amat. Berbeda dengan proses penulisan The Days With You yang penuh drama—no wonder, TDWY sangat meninggalkan bekas di hati saya—menuliskan kisah Ellie justru sangat menyenangkan dan lancar. Saya menulis tanpa ekspektasi apa-apa dan cuma punya satu tujuan: membuat cerita yang sederhana tapi berkesan. Jadi, maafkan ya kalau cerita Dear Ellie berbeda sekali dengan The Days With You! ^^
  3. The idea for Dear Ellie novel came from one thing: Change. Change is inevitable. Change is constant. Because the change will bring you into another chapter. Kalau dulu di The Days With You saya ingin memberi pesan kalau kebahagiaan ada di mana saja, even in the hopeless place, untuk novel kali ini adalah perubahan. Kalian yang sudah berusia twenty-something, pastinya pernah merasakan hidup sebagai remaja, kan? Gimana struggle-nya menghadapi dunia yang serbabaru, gimana enaknya hidup dengan mengikuti arus—tanpa tahu kalau kitalah yang harus menentukan hidup kita, bukan arus, bukan teman, dan bukan siapa pun, serta gimana susahnya untuk stand for ourself. Jadi, ya, ide itu berasal dari situ. Kalau kita mau hidup kita menjadi lebih baik, ya solusinya adalah berubah 🙂
  4. Ada yang penasaran dengan tokoh Dean? Jangan sedih, kamu tidak sendirian. Beberapa teman yang sudah membaca Dear Ellie langsung mengkonfrontasi saya dan bertanya: siapa sih sebenarnya Dean Williams ini? Kenapa anaknya rese tapi kok bikin jatuh cinta? Dean ini terinspirasi dari orang terdekat kamu, ya? Pfft. Sebelum spekulasi berkembang jauh, nih saya kasih jawabannya, ya: Dean from Dear Ellie was inspired by Seth, Georgie’s bestfriend in Landline by Rainbow Rowell. Saya suka sekali dengan novel ini, padahal Landline adalah novel yang digolongkan ke genre adult (sekarang ketahuan kan siapa yang sebenarnya ngefans sama Rowell). Her writing for adults is pretty magical too dan saya ngerasa ‘dekat’ sekali dengan tokoh Seth. Padahal, dari beberapa review yang saya baca di Goodreads, banyak pembaca yang benci dengan tokoh Seth karena sifatnya—yang demi Tuhan, beda jauh dengan Dean. Tapi, entah mengapa, there is something about Seth that made it really easy for me to connect to on an emotional level. Maka, saya menciptakan tokoh Seth versi saya sendiri dan lahirlah Dean Williams. Karakter dan latar belakangnya sangat berseberangan, tapi somehow, saya sangat dekat dengan Dean. Jadi, rahasia di balik tokoh Dean sudah clear, ya. Jangan coba-coba mengaitkan tokoh itu dengan seseorang entah itu teman, kerabat, mantan, mantan gebetan, atau siapa pun yang ada di hidup saya :p
  5. Spolier, spoiler, spoiler! Bagi yang sudah baca The Days With You, saya menyiapkan kejutan untuk kamu di sini! Yap, salah satu tokoh pujaan kita semua, yaitu *jeng-jeng* ADAM, muncul lagi di sini. Perannya bukan sebagai cameo, yang numpang lewat lalu dadah-dadah seperti Miss Universe, tetapi lebih dari itu. Dia akan berperan sebagai kakak—yang tidak pernah dimiliki oleh Ellie, by the way, karena dia anak pertama. Di sini, Adam lah yang berperan sebagai ‘penasihat’, cowok yang suka memberi petuah dengan gayanya sendiri. Ingat, kan, kalau Adam suka ngomong bijak tanpa tedeng aling-aling di The Days With You? Nah, di Dear Ellie, dia tetap memainkan peran seperti itu. Terus, ada kemunculan Rena nggak di novel ini? Ada, tapi porsinya dikit. Itu pun nggak muncul langsung, tapi hanya lewat pembahasan si Adam dalam surat.
  6. Dear Ellie hampir nggak terbit karena saya LAMA BANGET melakukan revisinya. Jadi, setelah naskah diberikan ke redaksi dan diputuskan untuk terbit, ada banyak major revision yang mau tidak mau harus diubah supaya lebih ciamik. Namun, sayangnya ketika itu kehidupan saya sedang riuh. Deadline skripsi sudah di depan mata, saya baru dapet tawaran magang di multinational company yang mengharuskan saya datang ke kantor from 8 to 5, Ibu saya dirawat di RS selama beberapa minggu, dan ada beberapa project yang menjadi tanggung jawab saya. Kalian boleh bilang saya hanya mencari-cari alasan atau apalah, tapi serius deh. Saya sama sekali nggak bisa menemukan waktu untuk menulis lagi. Akhir pekan pun saya habiskan di RS untuk mendampingi Ibu saya dan mengerjakan revisian skripsi. Jadilah saya baru ‘sempat’ mengerjakan revisi novel pada bulan Februari atau Maret—saya lupa—di tahun 2015 setelah wisuda dan kerumitan di dalam hidup saya selesai. Saya mengirimkan draft final ke penerbit disertai dengan penjelasan dan semacamnya. Di situ, saya sudah berlapang dada dan mikir kalau naskah ini tidak diterbitin, ya sudah nggak apa-apa. Yang penting udah nyoba. Tapi, pada bulan April, saya dapat informasi dari penerbit kalau Dear Ellie siap diterbitkan, yeay!
  7. Terakhir, karena saya baru belajar editing dan membuat desain di Adobe Illustrator, saya senang membuat desain-desain yang berhubungan dengan novel saya, entah itu The Days With You atau bahkan Dear Ellie. Makanya, kalau kamu follow saya di Instagram, pastinya sadar kan dengan kemunculan ilustrasi yang entah apa itu dan ala-ala. Ini pengalaman baru untuk saya, tapi melakukan promosi buku dengan desain yang dibuat sendiri rasanya fun juga!

Okay, that’s it. Selesai juga 7 Fakta dari novel Dear Ellie ini. Nah, biar seru, saya kasih bonus fact deh: got Ellie’s real name, Ellena, from my short story back in 2012. Dulu pernah nulis cerpen dengan judul Rahasia Ellena dan alhamdulillah menang kompetisi menulis dari Acer. Nama ini sangat melekat di benak saya hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menghadirkan sosok ‘Ellie’ dalam sebuah karya berbentuk novel. Jadi, utang saya sudah terbayar ya, Ellie. Sekarang kamu bisa bebas :’)

Terima kasih dan have a nice day! ^^

Advertisements

4 thoughts on “Seven Fun Facts About “Dear Ellie”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s