Numbers

hand-painted-rose-table-numbers-fe-f

Numbers are everywhere.

Kamu pasti setuju, kan?

(Yaiyalah setuju. Kerjaan kamu setiap hari kan memang berteman dengan angka-angka itu. Semua harus diukur. Semua harus pasti. Semua harus penuh perhitungan.)

Tapi, kalau dulu kamu tanya ke aku, aku akan jawab: nggak setuju. Aku lebih suka bilang, words, too, are everywhere.

Sebab aku benci angka. Aku tidak suka dengan mereka. Aku tidak suka dengan keangkuhan mereka yang seolah merasa paling benar sendiri dengan metode aneh yang mereka gabungkan untuk mencapai hasil akhir. Aku tidak suka dengan para pengikutnya yang terlalu mendewakan mereka (jangan khawatir, kamu tidak termasuk salah satunya) dan memandang rendah kasta pecinta huruf dan kata-kata. Aku tidak suka dengan bentuk ‘kepastian’ yang mereka janjikan padahal di dunia ini, tidak ada suatu hal yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri.

Angka membuatku apatis. Angka membuatku memandang dunia dengan kacamata yang baru. Angka membuatku tidak percaya diri. Angka membuatku skeptis. Angka membuatku merasa dikejar-kejar sesuatu. Tidak bebas. Sesak. Tak bisa berekspresi. Dan juga mengekang.

Angka membuatku disebut bodoh karena aku tidak bisa menyelesaikan persoalan sederhana di papan tulis. Angka membuatku dipandang rendah karena nilai matematikaku merah melulu.

Dan, angka jugalah yang menyebabkan aku bermuara di jurusan sastra, bukan di arsitektur interior seperti yang kuimpikan dulu. Angka juga yang menyebabkan aku bekerja di dunia periklanan (biasa kusebut digital advertising) alih-alih di bank atau di perusahaan sejenis yang membuat aku harus beramah tamah dengan angka.

(Padahal, sejujurnya, aku juga masih bertemu dengan angka setiap bulan ketika membuat reporting. Klien kan butuh angka dan persentase tentang progres campaign mereka. Tuh, lagi-lagi angka yang turun tangan untuk menawarkan kepastian!)

Tapi, bukan berarti aku nggak bersyukur dengan semua itu, ya.

Aku suka kok kuliah di jurusan sastra. Aku juga suka kerja di dunia periklanan. Aku nggak masalah dapat nilai jelek di mata pelajaran matematika karena nilai bahasaku tidak pernah kurang dari 90. Aku nggak keberatan disebut bodoh karena dengan begitu, aku punya kesempatan untuk membuktikan bahwa si bodoh ini juga bisa berhasil.

Aku juga suka kamu.

Iya, yang barusan itu nggak bercanda, lho.

Sebab, sebenci-bencinya aku sama angka, tapi angka jugalah yang mempertemukan kita.

(Tuh, makanya jangan terlalu membenci sesuatu secara berlebihan. Sebab siapa tahu, ia baik bagimu. Dalam hal ini, sesuatu yang kamu benci malah membawamu lebih dekat pada sesuatu yang kamu cintai: sastra, bahasa, iklan, cinta.)

Eh, cinta?

Yang barusan, nggak salah sebut, kan?

Sepertinya sih, nggak.

Habis, kalau bukan cinta, lalu perasaan ini harus kusebut apa?

Setelah kenal kamu, aku jadi senang berhitung. Aku melihat angka di mana-mana. Dan gilanya, aku merasa tidak masalah dengan itu. Aku juga senang memainkan angka-angka dan memadukannya dengan kata-kata. Kamu benar, numbers are everywhere. Aku juga benar, words too are everywhere.

Dan keduanya kalau digabungkan akan menciptakan imaji penuh memori.

Seperti angka satu, misalnya. Sekarang, aku tidak bisa mengingat angka satu tanpa mengingat bulan Januari (dalam kalender, bulan ini berada dalam urutan pertama atau satu), di mana sihirmu mulai berpengaruh terhadapku. Seolah, otakku sudah terbolak-balik dan mengasosiasikan segalanya dengan hal-hal yang berhubungan dengan kamu.

Satu; angka yang sakral. Angka pertama. Konotasinya sering positif dalam urusan peringkat. Tapi, terlepas dari semua itu, bagiku yang terpenting hanya satu: yang namanya mirip kamu memang banyak, tapi Damas yang sesungguhnya buatku cuma kamu. Satu-satunya.

(Ih, gombal.)

Lalu, dua; angka yang genap. Angka favoritku setelah kenal sama kamu. Sebab apa pun kalau dijalani berdua, rasanya menyenangkan aja gitu. Sebab berdua bersamamu, diajak ke ujung dunia pun aku mau. Asal perginya naik jet pribadi dan tinggalnya di kastil mewah. Hehe, bercanda deng!

Tiga. Angka ganjil yang tidak genap. Angka yang yang dulu berasosiasi dengan jumlah saudara di rumah. Tapi, kini berubah makna menjadi jam. Iya, jam tiga sore. Memasuki jam-jam ngantuk dan juga lapar di kantor. Jam di mana kamu mampir ke kantorku lalu kita turun bersama-sama ke basement untuk makan popmie di alfamart dan ditutup dengan salat ashar sebelum naik lagi ke kantor.

Kemudian,

Empat. Tanggal hari ini. Hari ketika aku memutuskan untuk menuliskan semua kisah tentang kita, baik yang manis atau pun yang pahit (anggap saja kita tidak tahu ke mana semua ini akan bermuara) dalam sebuah tulisan.

Aku tidak tahu kamu membacanya atau tidak, tapi semenjak kenal kamu, aku tidak bisa berhenti untuk menghitung. Termasuk menghitung hari dari ujung kisah kita.

***

(Notes: the picture above is taken from Creative Market)

Advertisements

One thought on “Numbers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s