And The Magic Begins

Politechnika_by_GreeGW

Tahu nggak, kalau ada sesuatu pada dirimu yang mampu menyerap semua hal menarik di sekitarmu?

Kamu seolah berada dalam dimensi tersendiri. Dalam sebuah ruang kedap suara, yang statis, di mana hanya kamu yang bergerak sebagai pusat semestanya. Kamu seolah hidup dalam sebuah kanvas putih yang teramat polos, dan hanya kamu yang memiliki spektrum warna; seolah muncul dalam sebuah lorong yang pekat, di mana hanya kamu yang memancarkan sinar.

I call it magic

When I’m with you

Aku masih ingat ketika aku terkena sihirmu untuk pertama kalinya.

(Padahal, sebelumnya sihir itu tidak pernah berlaku. Aku pernah beberapa kali berpapasan denganmu dan momen itu berlalu begitu saja tanpa ada bias-bias magis di dalamnya.)

Di sebuah pagi pada minggu keempat bulan Januari, tepatnya di perempatan jalan Sarinah.

Yang penuh dengan mobil lalu-lalang, klakson mobil yang tak sabaran menunggu lampu berubah hijau, penuh deru kendaraan yang melintas, dan penuh dengan para pekerja kantoran yang hendak menyeberang jalan.

(Yah, bahkan di dalam keramaian pun, kamu selalu eksis. Selalu paling terlihat. Paling menonjol. Paling cemerlang. Dan gilanya, kamu tidak perlu melakukan apa-apa untuk menunjukan kalau kamu ada.)

And there you are.

Berdiri di seberang jalan, dengan post-man bag cokelat yang belakangan kutahu selalu kamu kenakan, sepatu hitam mengilap (saking mengilapnya, debu pun rasanya enggan singgah), rambut yang disisir rapi, wajah serius yang terlihat segar, serta kemeja yang digulung hingga ke siku.

(Bicara soal kemeja, dulu aku pikir kamu sengaja melakukannya agar terlihat nyeni dan menarik seperti laki-laki kebanyakan, tapi, kelak, kamu akan mengatakannya alasannya kepadaku.

“Biar gampang wudhu-nya. Hehe.”

Duh, Damas.

Kamu ngomong begitu dengan entengnya sementara aku harus memeluk hatiku kuat-kuat agar tidak jatuh di hadapanmu.)

And with all your magic

I disappear from view

And I can’t get over

Aku juga ingat; ketika melihatmu di seberang jalan, aku berusaha melebarkan langkah kakiku, berusaha menyusulmu yang sudah berjalan jauh di depan sana sementara lampu penyeberangan jalan hampir berubah warna (yang kemudian membuatku dimaki-maki oleh pengendara motor). Mati-matian memangkas jarak. Mati-matian mengejar kamu yang sudah melesat.

Dan di tengah segala keriuhan itu, kepalaku berusaha memilah-milah segala detail kecil tentangmu. Bagaimana langkah kakimu, bagaimana kamu berjalan, bagaimana aroma tubuhmu yang terbawa oleh angin pagi pada waktu itu (harum sabun menyegarkan), bagaimana senyumku yang terus merekah seperti anak remaja yang baru kenal cinta, dan juga bagaimana aku berusaha merekammu dalam ingatan.

How funny.

Iya, lucu. Lucu karena aku sampai sebegitunya sama kamu. Lucu, karena aku sampai harus jinjit ketika berjalan di belakangmu ketika tahu tinggiku hanya sebatas pundakmu (padahal, Mas, saat itu sedang memakai sepatu berhak hitamku). Lucu, karena aku berjalan saaaangat perlahan agar tidak melampauimu ketika jarak di antara kita sudah terpangkas. Lucu, karena aku berusaha menyamakan langkah kakimu agar kita seirama. Lucu, karena hatiku sibuk lari-larian sampai berdetak begitu cepat sementara kepalaku sangat riuh—koreksi, amat sangat riuh—saking senangnya ketemu sangat kamu. Dan lucu, karena kamu sama sekali tidak tahu kalau ada makhluk yang sedang berperang dengan dirinya sendiri di belakang kamu.

And I don’t and I don’t and I don’t and I don’t

No, I don’t it’s true

I don’t, no I don’t, no I don’t, no I don’t

Want anybody else but you

Padahal, kamu bukan siapa-siapa. Bukan kerabat, bukan rekan kerja, bukan atasan di kantor, bukan senior atau junior di kampus, bukan teman apalagi sahabat.

Kamu orang asing.

Kamu hanya seseorang yang kebetulan lewat di seberang jalan.

Kamu hanya seseorang yang kebetulan bekerja di gedung yang sama denganku. Kamu hanya seseorang yang kebetulan sering berpapasan denganku.

Atau malah, semua kebetulan itu merupakan tanda dari takdir kita yang tanpa sengaja bersinggungan?

Lalu, tepat pada saat itu, kamu menoleh.

Kedua mata kita bertemu tanpa sengaja di udara.

Dan aku tenggelam pada pekatnya warna matamu yang dinaungi oleh sepasang alis tebal. Tenang, tajam, sekaligus hangat di saat yang bersamaan.

Seketika itu pula segala pergerakan di sekitar kita terhenti. Dan bukan, bukan hanya itu saja; semua suara di kepalaku perlahan lenyap dan detak jantungku pun mulai melambat, mereda, dan digantikan oleh debar lain yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata. Perlahan, muncul perasaan asing yang menyumbat ujung tenggorokan; perasaan penuh antisipasi atas segala ketidakpastian, seolah menunggu apa yang selanjutnya terjadi.

Want to fall, fall so far

I want to fall, fall so hard

Dan…

Kamu tersenyum.

Aku tidak pernah tahu bahwa ada senyum yang sehangat itu. Yang kehangatannya langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Yang bisa membangkitkan sesuatu di dalam diriku yang kukira telah mati.

Sisa perjalanan kita menuju kantor berjalan bagai mimpi.

Tapi, ada satu hal yang sangat melekat kuat di benakku.

Momen magis yang dulu kusangka hanyalah omong kosong, ternyata nyata ada.

Still believe in magic?

Yes, I do

Of course I do

***

Advertisements

9 thoughts on “And The Magic Begins

  1. Miawwriter says:

    Aku baca sambil senyam-senyum sendiri, Kak. Isinya sangat menyentuh dan seolah-olah aku yang berada di situ. Yaampuuuun >.< Kebetulan sambil dengerin instrumental yang galau abis, so proud of you! Aku penggemar kamu dan tulisanmu, Kak! ^^

      • Miawwriter says:

        Sebenernya sih instrumental piano gitu kak, hehe 😀 Oh iya, kalau aku boleh tahu nih ka, kakak buat gambar header blognya pake aplikasi apa ya? Aku kepingin juga buat header blog sendiri hehe tapi gak tau pake aplikasi apa :’) Thanks kak ^^

      • Puji Eka Lestari says:

        Haai, maaf baru bales yaa. Aku jarang cek blog hehe. Aku bikin pake Adobe Illustrator hehe. Tinggal pilih font sama besar headernya aja. Semoga bisa membantu ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s