Meet The Loner

tumblr_o0o7bnbd891si07zlo1_1280

Mungkin, satu momen ketika kamu terlihat menawan di hadapan semua orang adalah ini.

Siang itu, setelah pertemuan di dalam lift di pagi harinya, aku kembali melihatmu. Kali ini, lokasinya bukan di perempatan Sarinah, di depan lobi kantor, atau bahkan di dalam lift; kali ini aku melihatmu sekitar 500 meter jauhnya dari area gedung kantor. Di sebuah tempat makan, yang biasa disebut sebagai Rumah Makan Pancasila, hanya karena pemiliknya senang menempelkan lima sila dalam Pancasila di setiap dindingnya.

Kamu duduk di tengah ruangan, seorang diri dan tampak nyaman dengan kesendirianmu, sambil menikmati sepiring nasi putih dan semangkuk soto ayam. Sebuah botol minum biru yang tampaknya kamu bawa dari kantor, sudah tersisa setengahnya.

Namun, bukan itu yang membuat kamu menjadi pusat perhatian.

Fakta bahwa kamu tampak merayakan kesendirian di tengah orang-orang yang makan siang dengan bergerombol (bukan hal yang aneh lagi, kelak beberapa minggu setelah pertemuan ini, kamu bercerita kepadaku dengan gamblang bahwa orang Indonesia itu memang paling senang berkelompok, seolah-olah sendirian adalah hal yang paling berdosa di dunia), membuat siapa pun yang baru datang ataupun yang sudah duduk santai di tempatnya, menolehkan kepala barang satu detik atau dua detik untuk melirikmu. Mereka menatapmu dengan tatapan campur aduk, antara iri dan juga kasihan, namun lebih banyak lagi tatapan penasaran.

Kenapa harus makan sendiri?

Apa dia tidak punya teman?

Pasti dia anak baru di kantor!

Dan kamu? Kamu seolah tidak peduli dengan semua itu. Atau bahkan memang benar-benar tidak menyadari kalau belasan orang menatapmu dengan tatapan yang seperti itu. Kamu tetap lahap menyantap makan siangmu, sesekali melirik ke arah televisi yang menyajikan tayangan berita siang, dan juga menjawab dengan ramah sapaan dari ibu pemilik Rumah Makan Pancasila.

Tidak sekali pun kamu menyentuh ponsel yang tergeletak di samping botol minum biru milikmu. Kamu tidak perlu menjadi orang-orang itu—yang langsung beralih pada ponsel ketika mereka merasa terintimidasi. Atau ketika mereka merasa sendirian. Kamu dan dirimu, itu saja sudah cukup.

Dan aku? Aku sama seperti orang-orang itu. Memandangimu dengan jutaan asumsi di dalam kepala, sambil bertanya-tanya, kenapa? Aku juga sama seperti orang-orang itu, tidak berani kalau sendirian, dan harus ditemani untuk pergi ke mana-mana, termasuk pergi ke Rumah Makan Pancasila ini.

(Aku pergi dengan Mbak Anggun, omong-omong. Kami berdua mendapat tugas untuk memesan nasi kotak sebanyak 50 bungkus untuk keperluan outing kantor hari Jumat.)

Apa sebegitunya kamu mencintai kesendirian?

Apa sebegitunya kamu mencintai jarak, sehingga kamu lebih suka seorang diri dibanding makan bersama teman-teman kantormu yang lain?

Kenapa?

Rasanya aneh melihatmu makan siang sendirian sementara kantor tempatmu bekerja didominasi oleh makhluk berjenis kelamin laki-laki.

“Hei, bengong terus lo, Ra!” tegur Mbak Anggun sambil menyenggol bahuku dengan perlahan. “Balik kantor, yuk. Gue udah selesai pesan menu untuk take away Jumat besok. Lo mau makan siang apa? Sekalian beli atau mau mampir ke basement, dulu?”

“Gue nggak lapar, Mbak. Langsung balik ke kantor aja, ya.”

“Yuk!”

Kepalaku masih penuh pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab dalam perjalanan menuju kantor. Sampai, ketika aku menekan tombol 14 di lift yang akan membawaku ke atas, aku menyadari sesuatu. Bahwa, selama ini, kamu memang selalu sendirian. Ketika tanpa sengaja melihatmu menunggu lift, saat jam istirahat, saat turun ke basement untuk salat, ketika jam pulang kantor, bahkan ketika salat Jumat sekali pun. Kamu selalu sendirian. Tidak banyak bicara, tersenyum seadanya saat disapa oleh teman satu kantor yang berpapasan di lift, dan diam saja sepanjang perjalanan.

Ada apa dengan dirimu dan kesendirian?

Let me tell you this: if you meet a loner, no matter what they tell you, it’s not because they enjoy solitude. It’s because they have tried to blend into the world before, and people continue to disappoint them.
― Jodi Picoult, My Sister’s Keeper

***

Advertisements

2 thoughts on “Meet The Loner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s